Menjaga Diri: Sebuah Sentilan dari Lagu “Bungsu” karya Kunto Aji

Cukupkanlah, ikatanmu.
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu.
Sebelum kau menjaga.
Merawat, melindungi segala yang berarti.
Yang sebaiknya kau jaga, adalah dirimu sendiri.

Sederet kalimat ini sungguh manis, sekaligus ironis.
Betapa tidak. Seringkali kita melupakan hal paling sederhana sekaligus sulit untuk dilakukan dalam satu waktu. Menjaga diri sendiri, sebelum kita memberikan energi kita untuk orang atau pihak lain. Seberapa sering kita mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan atau kebahagiaan orang lain? Dalam hal apapun. Memilih pekerjaan, memilih jurusan kuliah, menentukan bakat yang ingin dikembangkan, apapun. Seberapa sering, kita berkorban untuk orang-orang yang mungkin justru sama sekali tidak memiliki korelasi dengan apa yang kita lakukan? Di penghujung hari, kitalah yang akan menjalani semua pilihan dan menanggung seluruh konsekuensinya. Kenapa, kita sering meniadakan konsekuensi logis ini?

Ini adalah interpretasi saya begitu mendengarkan lagu “Bungsu” dari Kunto Aji di album terbarunya. Bisa jadi, ini bukan hal yang ingin diekspresikan Kunto Aji melalui lagu ini. Tapi, ini adalah perasaan paling jujur yang saya rasakan saat pertama kali menikmati lagu ini. Kunto Aji mengingatkan saya satu poin penting yang terkesan klise dan cenderung disalahartikan sebagai egois. Betapa pentingnya untuk menjaga diri sendiri, sebelum kita bisa merawat, melindungi segala yang berarti untuk kita. Bagaimana kita bisa melakukan hal untuk orang lain, jika kita masih gagal melakukannya untuk diri sendiri?

Buat saya, kalimat “Relakanlah yang tak seharusnya untukmu” merujuk pada hal-hal yang kadang terpaksa kita ambil untuk membuat orang lain bahagia. Berbagai keputusan dan atribut yang dikenakan atas alasan “demi orang lain”. Untuk bisa menjaga diri sendiri, kita perlu merelakan hal-hal tersebut. Pilihan jurusan kuliah yang lebih disukai oleh orang tua. Jenis pekerjaan yang jauh lebih diterima oleh keluarga besar. Dan hal lainnya. 

Merelakan, bukanlah hal sederhana yang mudah dilakukan dalam semalam. Perlu perenungan panjang di tiap malam untuk bisa merelakan. Berdamai dengan diri sendiri, bisa jadi salah satu cara paling efektif untuk memahami bentuk merelakan. Di dalam lagu ini, saya merasa Kunto Aji mengekspresikannya dalam frasa “Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri”. Meyakini bahwa kita harus memahami diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, meyakini diri sendiri, untuk bisa merelakan hal-hal yang sudah pernah kita lakukan untuk orang lain.

Apakah buruk untuk menjaga diri sendiri?
Apakah egois untuk memikirkan diri sendiri?
Jawabannya mungkin akan berbeda, tergantung dari perspektif masing-masing individu.
Semua kembali ke masing-masing insan dalam menyikapi hidup dan segala fenomena di dalamnya.
Yang jelas, saya mau berterima kasih ke Kunto Aji karena sudah berhasilkan mewujudkan berbagai pikiran di dalam kepalanya menjadi sebuah album yang sangat bersahabat di telinga dan di jiwa. Terima kasih juga, karena sudah mengingatkan saya-dan mungkin banyak orang lainnya-untuk selalu menjaga diri sendiri.