Lelah, Alasan, dan Korelasinya

Dalam kurun waktu dua tahun, ada cukup banyak hal yang sudah saya lakukan. Memulai bisnis bernama StudiBrand.inc, gambling memulai satu platform belajar alternatif tentang brand & digital bernama Share.inc, menyelesaikan studi jenjang S1 adalah beberapa hal yang ada di dalam list saya dua tahun belakangan ini. Selebihnya, saya terus mendapatkan kesempatan untuk berbagi mengenai hal yang saya tahu dan alami kepada siapapun yang ingin mengetahuinya. Beberapa teman di kota tetangga cukup baik untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi di kotanya. Semarang, Jogjakarta, Salatiga, terima kasih untuk kesempatan dan kepercayaannya.

Rupanya, dua tahun terakhir ini cukup melelahkan. Setiap kali saya melihat agenda bulanan yang sudah terlewati, ada sedikit rasa tidak percaya bahwa saya bisa melewati semua agenda itu dengan baik. Yah, batuk, pilek dan gejala penyakit ringan lainnya pasti selalu mengiringi. Ada satu atau dua hal yang saya pelajari selama ini. Yang pertama tentang rasa lelah, dan yang kedua mengenai alasan.

Lelah, pasti pernah datang. Cukup sering, bahkan. Mengelola dua entitas bernama StudiBrand.inc & Share.inc membutuhkan tenaga, waktu dan pikiran yang cukup besar. Ketika deadline project StudiBrand.inc di depan mata, sedangkan masih ada program Share.inc yang harus dipersiapkan, kadang ingin rasanya untuk menyerah dan berhenti saja. Menariknya, kadang hal yang membuat kita lelah, justru menjadi obat bagi rasa lelah itu sendiri. Tak terhitung berapa kali rasa lelah yang ada langsung sirna selepas Share.inc usai dan beberapa orang mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada kami. Saat itu juga, rasa lelah yang ada mendadak hilang, digantikan oleh rasa puas dan sedikit tawa. Aneh, memang. Apa yang menjadi sumber utama rasa letih dan lelah, berubah menjadi obat mujarab untuk menghapus rasa letih dan lelah itu juga. Bisa jadi, jika saat ini kalian lelah dalam melakukan sesuatu, dalam waktu dekat apa yang kalian lakukan akan menjadi obat dari rasa lelah itu sendiri.

Kedua, mengenai alasan. Ini hal yang cukup sentimentil, tapi saya percaya bahwa alasan yang cukup kuat akan menjadi bahan bakar yang amat baik dalam melakukan hal apapun. Hal serupa, dilakukan dengan alasan yang berbeda, bisa menghasilkan dua hal yang berbeda pula. Mengenai alasan, saya belajar bahwa alasan paling kuat justru datang ketika alasan tersebut diperuntukkan untuk entitas yang lebih besar dari diri kita sendiri. Alasan yang kuat, seringkali muncul sebagai cara untuk memecahkan masalah bersama. Atau untuk memenuhi kebutuhan kelompok yang lebih besar. Sederhananya, ini bukan tentang saya, ini untuk entitas yang lebih besar. Kenapa? Ketika kita meletakkan alasan untuk entitas dan kepentingan yang lebih besar, saat rasa lelah muncul, ada begitu banyak alasan untuk mengobatinya. Membayangkan orang-orang yang merasa Share.inc bermanfaat, membuat saya dan tim sama sekali tidak pernah meniadakan Share.inc hanya karena alasan jadwal yang padat atau lelah.

Pada akhirnya, kedua hal di atas menjadi komponen yang sangat krusial dalam menjalani hidup dan aktivitas yang konsisten. 

Notes, tulisan ini sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk mengembalikan sense menulis dalam bahasa Indonesia lagi. Jujur, karena terlalu sering menulis dalam bahasa Inggris, aneh rasanya ketika harus menulis menggunakan bahasa Indonesia.