Memeriksa Brand Equity: Saya Bilang A, Kok Kamu Bilang B?

Pernahkah kita memeriksa apa yang orang katakan tentang kita? Bukan, bukan untuk menjadi besar kepala atau justru berkecil hati. Yah, walaupun dengan tingkah laku netijen yang maha benar sekarang ini, resiko itu pasti akan ada, sih. Tapi, serius, pernahkah kita memeriksa apa yang orang katakan soal kita? Jangan-jangan, mereka mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang coba kita koar-koarkan soal diri kita sendiri? Kita teriak A, orang-orang di luar sana teriak B atau bahkan Z! Meminjam istilah mas Farid Stevy, ada jarak antara yang kita inginkan dan orang persepsikan. Apakah bahaya? Dari perspektif brand, tentu saja bahaya. Apa yang kita coba sampaikan ternyata tidak diterima dengan baik, kok. Gimana brand kita mau berkembang secara sehat?

Jadi, memeriksa apa yang orang lain katakan soal kita itu hukumnya wajib? Wajib, bagi yang membutuhkan. Siapa yang membutuhkan? Yang merasa butuh. Bisa siapapun itu. Di era digital macam sekarang, semua orang bisa jadi entitas apapun yang lebih besar dari sekedar keberadaannya sebagai individu. Bagaimana caranya? Gampang. Cukup siapkan kebesaran hati dan telinga yang siap mendengar. Atau mata yang siap membaca komentar netijen, dalam konteks konten tertulis. Coba lihat, dengar dan resapi apa yang orang lain katakan tentang kita. Bisa dari komentar-komentar yang mereka tulis di konten tentang kita. Usahakan cari konten di luar kanal milik kita. Kenapa? Agar temuannya lebih objektif. Pada dasarnya manusia itu dekat sekali dengan bias. Komentar yang ada di kanal kita sendiri, bisa jadi sudah dipengaruhi oleh bias. Bias karena sungkan, bias karena sudah hafal perilaku kita di kanal kita sendiri, bias karena sudah kenal kita sedari dulu, dan banyak alasan lainnya. Kalau di kanal lain kan lebih jujur, fresh, dan mungkin sedikit liar. Makanya, tadi disebutkan bahwa kebesaran hati dibutuhkan di dalam aktivitas ini. We never knew what others said about us.

Sebetulnya tidak sulit kok melakukan pengecekan ini. Hanya butuh kesadaran yang utuh tentang aktivitas ini dan kemauan untuk melakukannya. Tentu saja disambung dengan keikhlasan menerima dan mencerna persepsi orang lain tentang kita. Jika temuannya masih berjarak, antara apa yang coba kita beritakan dengan persepsi orang lain, ada baiknya untuk melakukan evaluasi. Jangan habiskan tenagamu untuk melakukan hal-hal yang sudah pasti sia-sia. Rehat sejenak. Jika antara persepsi dan kenyataan sudah sejalan, selamat! Setidaknya satu PR sudah selesai, tapi masih ada PR selanjutnya. Secara kualitas sudah oke, tapi bagaimana dengan kuantitas? Seberapa banyak orang yang mengamini premis yang kita katakan? Akan selalu ada PR yang harus dikerjakan di kemudian hari. Karena seperti hidup, mengelola brand itu dinamis. Selalu berkembang, tak pernah berhenti. Mari nikmati prosesnya. Jadi, apa yang orang lain bilang soal kamu?

Tulisan ini dibuat di jam-jam magis, setelah terjadi  obrolan mendadak bersama 
mas Farid Stevy di DM Instagram. Dibuatnya di jam magis (sebelum subuh), 
postingnya tetap jam prime time, lah. Demi konten. Sekian.