To Express, Not To Impress: Implementasi Konkret Dikotomi Kendali Filosofi Teras

To express, not to impress.

Satu premis yang saya dapatkan dari sebuah kultur bernama hip-hop, atau breaking lebih spesifiknya. Mungkin banyak orang yang tidak tahu, tapi breaking adalah salah satu elemen di dalam kultur hip-hop. Tarian yang lebih sering dikenal sebagai tari kejang atau breakdance oleh masyarakat ini adalah salah satu dari empat pilar kultur hip-hop. Singkatnya, hip-hop memiliki empat elemen, yaitu: MC, Deejay, Graffiti & Breaking. Untuk lebih detailnya, bisa coba colek Arthur ‘Rytroc’ Garincha.

Mari kembali ke premis to express not to impress. Premis ini sederhana tapi penuh makna. Untuk mengekspresikan, bukan untuk mendapatkan impresi dari orang (membuat terkesan). Di dalam breaking, ada dua format tarian, yaitu battle & cypher. Battle, seperti namanya, adalah kesempatan di mana bboy, bgirl atau crew-nya melakukan kompetisi melalui tari. Kedua belah pihak menunjukkan gerakan terbaiknya satu sama lain dengan satu tujuan. Menang. Sedangkan, cypher, lebih bersifat ke bersenang-senang. Cypher dibentuk oleh bboy & bgirl yang membentuk lingkaran bersama-sama. Di bagian tengah, tiap bboy & bgirl akan menari dan menunjukkan gerakannya, tanpa ada yang menilai. Tidak ada tujuan untuk memenangkan sesuatu, murni hanya bersenang-senang dengan cara menari mengikuti irama breakbeat yang dibawakan oleh deejay di lantai dansa. Tidak ada juri yang menentukan siapa pemenangnya. Tidak ada musuh. Semua hanya tentang bersenang-senang. Meski untuk bersenang-senang perlu effort dan persiapan. Bayangkan, berapa lama latihan yang dibutuhkan oleh bboy dan bgirl untuk sekedar bersenang-senang di cypher? Tahunan yang pasti. Berapa banyak salonpas yang dipakai paska sesi latihan? Berapa banyak sesi pijat yang harus dijalani setiap ada cidera setelah latihan? Tentu effortnya tidak main-main. Tapi demi bersenang-senang dan berekspresi, semua akan dilakukan. Ingat, bukan untuk mendapatkan impresi.

Apa hubungan premis di atas dengan dikotomi kendali filosofi teras? Beberapa waktu belakangan saya baru saja mulai membaca buku tulisan Henry Manampiring, berjudul Filosofi Teras. Di dalam bukunya, om Piring mengenalkan konsep dasar Filosofi Teras. Salah satu konsep dasarnya adalah dikotomi kendali. Filosofi Teras melihat hal di dalam hidup ini dalam dua kategori besar, hal yang ada di bawah kendali kita, dan yang ada di luar kendali kita. Seharusnya kita cukup fokus pada hal-hal yang ada di bawah kendali kita agar tidak terjebak dalam rasa cemas dan stress. Biarlah hal yang ada di luar kendali menjadi urusan lain. Yang penting kita sudah melakukan yang terbaik atas hal yang bisa kita kendalikan. Hal yang dapat kita kendalikan misalnya: pertimbangan, keinginan, tujuan, dan hal yang dapat kita kontrol. Sebaliknya, hal di luar kendali adalah bagian dari hidup yang tidak mungkin kita pengaruhi, seperti: cuaca, persepsi orang, perasaan orang, naik turunnya harga saham, dan sebagainya. Fokusnya ada pada diri sendiri, tanpa mempertimbangkan hal-hal di luar kendali kita. Seringkali kekecewaan terjadi karena hal-hal di luar kuasa kita mengganggu indahnya dunia, mengembalikan kita pada realita. Padahal, menggantungkan kebahagiaan pada hal di luar kendali kita adalah hal yang cukup berbahaya. Bagaimana jika kita meletakkan pusat kebahagiaan pada diri sendiri? Pada hal yang sepenuhnya dalam kendali kita? Semisal hal di luar kendali hadir di tengah jalan, tak mengapa, karena kita tidak meletakkan kebahagiaan kita di sana. Kita memiliki kendali yang cukup besar atas kebahagiaan kita.

Dalam premis to express, not to impress, fokusnya ada pada diri sendiri. Keinginan untuk berekspresi dengan segala persiapannya tanpa ada ekspektasi mendapatkan impresi dari orang di sekitar. Benar-benar mirip dengan prinsip dasar filosofi teras yang ditulis dengan sangat ringan oleh om Piring. Dikotomi yang harus kita perhatikan adalah dikotomi yang bisa kita kendalikan. Mari tidak usah terlalu peduli dengan hal-hal di luar itu. Yang penting kita sudah melakukan apa yang kita bisa dengan sangat baik. Yang penting, kita sudah mengekspresikan apa yang kita ingin dengan cara yang kita bisa. Impresi? Tidak usah terlalu dipikirkan. Toh, mau dapat impresi atau tidak, selama keinginan untuk berekspresi sudah terpenuhi, tidak jadi masalah. Di cypher, bboy dan bgirl sepenuhnya fokus pada hal-hal di dalam dirinya. Bagaimana mereka menikmati musik, menggerakkan kaki sesuai irama, mengartikulasikan ekspresinya melalui gerakan breaking. Yang terpenting adalah mereka menikmati momen dan mengekspresikannya (melalui gerakan yang mereka pelajari selama bertahun-tahun) di lantai dansa. Tak ada tendensi untuk memenangkan hal-hal di luar kendali mereka.

Secara tidak sadar, saya sebetulnya sudah mengenal konsep dikotomi kendali yang dijelaskan om Piring dalam bukunya. Sayangnya hal ini belum bisa saya terapkan sepenuhnya di dalam kehidupan sehari-hari. Buku dari Om Piring mulai memicu saya untuk mencoba menerapkannya secara sadar dalam segala aspek kehidupan. Butuh waktu dan proses, jelas. Tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. I used to have it on the dance floor, I just need to put it into bigger scopes.
Terima kasih, om Piring untuk bukunya yang sangat menarik!