MASA-MASA 20

Siang ini, saya menghabiskan sebagian besar waktu dengan melihat baris demi baris pencapaian seseorang yang terangkum dalam dokumen bernama curriculum vitae. Kebetulan saat ini saya sedang dalam proses menyiapkan tim baru untuk sebuah project yang akan datang. Singkat cerita, saya melihat ringkasan perjalanan hidup beberapa orang di masing-masing cv-nya. Rentang usianya cukup beragam, ada yang masih di awal 20, ada yang sudah mendekati batas kriteria generasi millennials. Meski usia cukup beragam, ada satu kesamaan yang akhirnya saya sadari setelah usai membaca curriculum vitae terakhir. Hampir semua perjalan yang terekam dimulai di umur 20-an. Apakah ini artinya umur 20 adalah salah satu hal yang cukup penting di perjalan hidup manusia?

Sebagai orang yang capaian umurnya masih di bawah kepala 3, saya merasa umur 20-an memang menjadi salah satu titik balik dalam hidup. Bagi saya pribadi rasanya pergantian usia dari 19 menuju 20 jauh lebih berdampak ketimbang usia 17 yang sering disakralkan orang. Kenapa? Yang pertama, jelas dari belasan menjadi dua puluh itu perbedaannya signifikan, dari kepala 1 ke kepala 2. Yang kedua, pintu kemungkinan jauh lebih lebar terbuka di usia ini, tentu dengan segala konsekuensinya. Usia yang sudah terbilang dewasa bagi saya untuk menentukan apa yang ingin saya lakukan, tapi masih cukup muda untuk dimaklumi atas kegagalannya. Kombinasi yang menyenangkan sekaligus mengerikan.

Pertanyaan dan pernyataan mulai bermunculan sekaligus berguguran di fase ini.

Perspektif yang muncul di usia 20-an tak lagi sebatas ruang kelas SMA, mata pelajaran dan guru yang menyebalkan. Yang awalnya begitu yakin bahwa hidupnya akan dihabiskan untuk menjadi seorang pengacara mungkin tiba-tiba banting setir ingin menjadi pengusaha. Atau sebaliknya, yang awalnya merasa Pendidikan formal bukan pilihan yang tepat, justru berakhir menjadi pengajar generasi muda. Entah ini hanya asumsi saya atau banyak pihak yang juga mengamini, usia 20 memiliki peran yang penting di dalam pilihan hidup manusia 

Memutuskan untuk menjadi merah di usia 20 tidak menjamin kita tetap merah di usia 30. Tapi saya yakin ada nuansa merah yang tersisa di usia 30, meskipun mungkin opacity-nya hanya 10%.

Hal ini membuat saya penasaran tentang apa yang terjadi di usia 20-an orang lain. Apa yang mereka pikirkan? Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka inginkan? Apa dampaknya untuk usia mereka saat ini? Secara disadari atau tidak, apa yang mereka nikmati saat ini bisa jadi sudah mereka #mulaidi20. Apakah hanya saya saja yang penasaran atau kalian juga?

Judul artikel kali ini didapat setelah berulang kali memutar lagu Masa-Masa dari The Adams.