KAMU BUKAN TUKANG FOTOKOPI,
JADI JANGAN ASAL NGOPI.

Saya enggak tahu apakah-di era digital seperti saat ini-tukang fotokopi masih eksis? Coba yang masih menemukan keberadaan tukang fotokopi atau bahkan menggunakan jasanya bisa share ceritanya ke saya. Entah dengan masa sekarang, tapi beberapa belas tahun lalu, tukang fotokopi sudah seperti sahabat bagi saya. Mulai dari sekedar walkthrough game hingga catatan fisika pernah singgah di tukang fotokopi dekat rumah. Iya, saya tahu itu termasuk piracy, tapi apalah yang diketahui oleh bocah SD saat itu. Seingat saya, terakhir saya cukup sering mampir ke tukang fotokopi adalah saat wisuda, atau lebih tepatnya saat mengurus segala birokrasi terkait.

Lantas, apa hubungannya tukang fotokopi dengan blog ini? Apakah mau bahas soal jenis-jenis kertas yang disediakan di fotokopi-an? Oh, tentu tidak. Saya akan menggunakan tukang fotokopi sebagai analogi dalam membahas fenomena yang saya rasa cukup sering terjadi saat ini. Fenomena yang terbentuk karena keterbukaan informasi yang kebangetan tanpa diiringi oleh social skill yang mumpuni. Fenomena yang seringkali menihilkan proses dan usaha. Tak lain dan tak bukan, fenomena meniru apa yang dilakukan orang lain tanpa memahami seluk beluknya dulu. Supaya lebih mudah disebut dan nyambung dengan judulnya, setelahnya kita sebut sebagai ngopi, ya!

Menurut pengamatan awam dan tanpa mengindahkan metode penelitian ilmiah saya, banyak orang memilih untuk ngopi hal-hal yang sudah dilakukan orang lain. Ada jenis usaha baru yang lagi rame, langsung ngopi! Ada aktivitas tertentu yang sepertinya seru dilakukan, langsung ngopi! Ngopi banyak dipilih karena dirasa praktis dan tidak ribet. Orang cukup mengamati apa yang sudah terjadi tanpa perlu riset terlalu dalam. Memang benar, ngopi itu praktis tapi di sisi lain membuat orang enggak paham apa yang sebetulnya terjadi. 

Ngopi hanya memberikan kita gambaran dari luarnya saja. Sama seperti tukang fotokopi yang menggandakan dokumen dengan selotip di ujung jarinya. Dokumen pasti berhasil terkopi dengan baik, tapi apakah tukang fotokopi paham apa isinya? Bagaimana implementasinya? Proses apa yang terjadi di balik dokumen tersebut? Tentu tidak, tapi enggak salah. Memang fungsinya cuma sebatas itu aja. Sekedar ngopi kulitnya saja. Selesai.

“Nah, apa jadinya kalo kita asal comot alias sekedar ngopi luarnya saja?”

Jawabannya bisa bervariasi. Ada yang cukup beruntung dan berhasil dari aktivitas sekedar ngopi ini, tapi tak sedikit yang diam di tempat atau bahkan harus mengulang dari nol. Banyak yang tidak sadar apa yang mereka tiru itu hasil dari puluhan atau bahkan ratusan kesalahan. Orang hanya bisa meniru hasilnya, tanpa memahami proses dari kesalahan-kesalahan yang terakumulasi. Orang hanya melihat sisi keren dari apa yang ditiru, tanpa mengerti esensinya.

Menurut saya, fenomena ini bisa ditemui di segala aspek kehidupan. Mulai dari pilihan fashion, ide bisnis, pilihan hidup, keputusan bisnis, hingga kultur perusahaan. Saya yakin pasti siapapun yang membaca blog ini sedikit banyak punya pengalaman terkait hal ini.

Lantas, apa tujuan dari blog ini? Apakah saya benci orang yang cuma ngopi aja? Enggak lah! Itu pilihan mereka dan saya menghargainya. Ini salah satu proses dari pembelajaran juga. Tapi semisal ada temanmu yang sekiranya sedang melakukan proses ngopi, mohon untuk dicolek pundaknya dan ingatkan tentang konsekuensinya. Kecuali kalau temanmu itu memang punya usaha fotokopi 🙂