Mencontek adalah proses belajar

Hah, gimana? Astaghfirullah, orang kok diajarin nyontek! Itu dosa! Itu salah! Mencontek kok dibilang proses belajar?! Ini pasti yang nulis dulu jaman sekolahnya bego!

Saya sudah bisa nebak bakal ada respon seperti di atas ketika orang membaca judulnya. Oke, mari kita bahas lebih lanjut, ya. Pertama, saya mau jelasin dulu kalau emang jaman sekolah dulu saya nggak pinter-pinter amat. Kuliah juga butuh 7 tahun buat lulus. So, if you think I’m stupid, maybe you’re right.

Perlu saya akui, di jaman sekolah dulu saya cukup dekat dengan aktivitas contek mencontek. Tapi siapa sih yang nggak pernah nyontek? Akui saja, paling tidak kita pasti pernah mencontek atau sekadar kepikiran untuk mencontek sekali seumur hidup. Mencontek dilabeli sebagai dosa besar di dunia pendidikan yang target utamanya adalah angka/nilai. Nilai didapat dari jawaban singkat atau pilihan ganda di setiap ujian. Wajar jika mencontek dianggap dosa besar. Pertanyaannya sama, jawabannya mutlak, kalau nyontek ya pasti dapat nilai bagus (selama sumber contekannya terpercaya). Kalau kamu udah nyontek tapi tetep jelek nilainya, kamu masuk ke dalam kategori orang yang apes.

Terbiasa dengan pola pendidikan seperti itu untuk jangka waktu yang lama membuat kita menanamkan pemahaman bahwa mencontek itu salah, cuma dilakukan oleh orang-orang hopeless, dan jauh dari kata terdidik. Well, it’s a sin if you’re doing it on a structured system. Jawaban pas di ujian paling itu-itu aja, kan? Misalnya:

  • 1+1= . . . . . . .
  • Presiden pertama RI adalah . . . . . .
  • Orang yang mengetik naskah proklamasi adalah . . . . . .

Sekali lirik, jawaban bisa didapat dan kita bisa lolos dari jeratan remidi atau tinggal kelas.

Sayangnya di kehidupan setelah sekolah (kerja), pertanyaan dan masalah yang muncul nggak sesederhana itu, misalnya:

  • Apakah Manchester United akan juara?
  • Bagaimana cara untuk meningkatkan penjualan produk A di Q3 2021?
  • Apa yang perlu dilakukan brand A untuk bisa melakukan penetrasi ke pasar internasional?

Apakah pertanyaan macam itu bisa dijawab hanya dengan sekali lirikan mata? Tentu tidak. Pertanyaan-pertanyaan tadi butuh analisa yang lebih mendalam untuk bisa ditemukan jawabannya. Dan hal yang bisa dilakukan pertama kali adalah mencontek kasus serupa untuk dianalisa, atau bahasa kerennya case study. Untuk bisa menjawab pertanyaan apakah MU akan juara kita bisa lihat perjalanan MU di musim sebelumnya atau bahkan performa tim papan tengah lainnya. Untuk bisa mencari cara meningkatkan penjualan produk A kita bisa riset kompetitor. Untuk bisa mengantarkan brand A ke pasar internasional, kita bisa pelajari marketing strategy dari brand dengan skala internasional yang sudah eksis.

Percayalah, pertanyaan yang kompleks semacam itu tak akan bisa dijawab dengan mudah bahkan setelah kita mencontek. Masih banyak variabel yang akan mempengaruhi jawaban/solusi yang dibutuhkan. Kalau dengan mencontek saja masih sulit, apalagi tanpa mencontek?! Tak perlu merasa berdosa dengan aktivitas mencontek, kehidupan ini tak sama seperti bangku sekolah yang jawabannya selalu itu-itu saja dan bisa ditemukan di buku paket atau LKS. Tinggalkan mindest lama tentang mencontek. Proses belajar justru berawal dari mencontek dan meniru. Contek apa yang bisa kita contek, kemudian kembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Kalau kalian tetap merasa jengah dengan istilah mencontek, gantilah dengan istilah yang lebih kekinian, yakni referensi.