The Importance of Clarity

Di kehidupan yang singkat, padat, kadang njelehi ini, cukup banyak orang yang jauh lebih senang dengan hal-hal sederhana. Sayangnya, sederhana tidak selalu baik. Contohnya adalah brief. Brief yang kelewat sederhana, justru bikin pusing. Karena sederhana tidak selalu berarti jelas. Seperti yang pernah diutarakan dosen saya, bu Diah Kusumawati, “Rumah minimalist sama rumah seadanya itu beda,Dan.” Yak, akan saya ingat-ingat quotes-nya, bu.

Kenapa orang suka yang ‘sederhana’ (lebih tepat seadanya sih)? Karena kita tidak membutuhkan effort yang lebih. Misalnya seorang client berkata, “Saya ingin design yang inovatif!” That’s it. Client nggak perlu mengejawantahkan maksud dari inovatif itu. It is our job.

Sebagai pekerja kreatif, harusnya kita merasa cemas dengan pernyataan di atas. Inovatif itu seperti apa, ya? Benchmark dan parameternya seperti apa? Mungkin untuk brand yang cukup konvensional, punya logo yang menggunakan typeface Helvetica aja sudah cukup inovatif. Get the point?

Nah, sayangnya, banyak teman-teman saya yang berkecimpung di industri kreatif juga suka dengan ‘kesederhanaan’. Terima brief dengan kata kunci inovatif, langsung tancap gas tanpa tedeng aling-aling dan perasaan cemas. Hasilnya bisa diprediksi, antara revisi tanpa batas, atau ‘sambat’ clientnya nggak jelas.

Padahal hal di atas bisa diantisipasi dengan lebih kritis dan menghindari kesederhaan yang delusional. Caranya? Banyak framework yang bisa digunakan, tapi yang paling simple dan efisien adalah coba untuk mempertanyakan definisi dari kata-kata yang ‘sederhana’ itu. Asking could lead you to clarity. Bisa saja, inovatif yang dimaksud client tadi ada di koridor warna (warna-warna yang menunjukkan kesan modern), dll.Ada juga contoh untuk para mahasiswa, nih. Mahasiswa cenderung iya-iya aja ke dosen tanpa klarifikasi. Terutama pada saat bimbingan skripsi. Dosen suruh A, langsung aja dikerjakan. Dosen suruh ganti B, manggut-manggut. Endingnya nanti pusing sendiri karena nggak tau apa maksud dosen. Dosen ini nggak bisa disalahkan juga. Karena tanggung jawab dosen itu sungguh banyak, apalagi bimbingan skripsi juga nggak cuma satu dua mahasiswa saja. Alangkah lebih baik jika mahasiswa dengan percaya diri coba memperjelas maksud dari dosen. It’s not a crime.

Intinya, jangan terjebak pada buaian ‘sederhana’. Karena tak selamanya yang sederhana itu baik. Bahkan, kalo kebanyakan makan di RM Sederhana juga kita bisa-bisa kolestrol.