ide: semakin dicari, semakin sulit ditemui

Pernah merasa iri dengan orang yang begitu mudahnya melontarkan ide? Sialnya lagi, orang macam ini seperti selalu punya jutaan ide yang siap dimuntahkan kapan pun dibutuhkan. Layaknya senapan mesin, sekali pelatuk ditarik, rentetan ide keluar begitu saja tak bisa dibendung.

Saya pernah merasakan hal tersebut. Tentu saja bukan sebagai pelontar ide, tapi sebagai orang yang iri dengan kemampuan yang saya anggap super itu. Bagaimana tidak keki, kadang untuk menghasilkan satu ide sederhana saja butuh merenung beberapa malam ditemani buku catatan. Ditambah lagi ketika ide muncul, saya merasa ide itu tak cukup baik. Rasanya ingin berubah jadi undur-undur saja.

Setelah beberapa tahun, saya sadar bahwa saya yang salah. Saya cuma mengutuk ketidakmampuan saya menghasilkan ide tanpa mencari tahu sebetulnya apa yang salah. Saya menganggap ide satu hal yang bisa diraih dari udara tipis di hadapan saya. Mungkin karena kebanyakan baca komik, di mana biasanya orang cukup merenung beberapa saat dan voila ide muncul begitu saja. Tak lupa dengan ornamen lampu yang tiba-tiba ada di atas kepala.

Ternyata ide itu bukan tentang melamun menatap langit-langit, tapi hanya mencoba untuk mengkoneksikan berbagai hal yang akhirnya menjadi solusi bagi permasalahan. Di sini saya sadar bahwa mencari ide itu soal mengelola referensi. Semakin banyak referensi yang kita punya, semakin mudah kita mengkoneksikannya untuk menjadi ide. Bagaimana bisa mendapat ide, kalau kita nggak punya referensi? Referensi bisa didapat dari banyak hal, misalnya: ngobrol, membaca, denger podcast, dll.

Saya sangat suka dengan cara bos saya di Jakarta dulu dalam menggambarkan pentingnya referensi saat mencari ide. Kira-kira begini kalimatnya,

“Gimana kita bisa muntah kalau perut kita kosong? Isi dulu perutnya, baru kita bisa muntah!”

Kalau nggak ada ide yang bisa kita muntahkan, mungkin ini saatnya kita mencari asupannya dulu. Jangan dipaksakan terus menerus, karena ya nggak akan ada ide yang bisa dihasilkan.