PILAH-PILIH PILIHAN

Sebagian besar orang merasa bahwa mereka tidak punya pilihan atas apa yang sedang mereka jalani. Dalam artian seakan tak lagi ada kemungkinan yang bisa dipilih dan dijalani. Saya pribadi merasa hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seringkali kita terjebak di dalam bias.

Apa itu bias? Bagi mereka yang di saat SMA ambil jurusan IPA, memahami bias sebagai pembelokkan cahaya karena melewati dua benda dengan kerapatan yang berbeda. Bagaimana soal pilihan dan keputusan? Buat saya, bias dalam mengartikan pilihan berarti sama sebagai pembelokkan. Bedanya di kasus kedua yang terkesan berbelok adalah perspektif dan pertimbangan kita. Apa penyebabnya? Bisa karena faktor eksternal (lingkungan) mau pun internal (nilai yang dianut).

Mari gunakan contoh supaya lebih jelas.

Misalnya saya sudah mencoba untuk menjalankan bisnis A selama lebih dari 5 tahun yang ternyata enggak profitable. Logika dasar semua orang pasti akan menyarankan untuk menutup bisnis atau pivot. Tapi faktanya logika tidak semudah teorinya apalagi sekadar saran tetangga. Bagi saya yang sudah menghabiskan 5 tahun untuk mengembangkan bisnis, pivot atau menutup bisnis bukanlah opsi menarik. Mungkin karena merasa sayang untuk menutup bisnis, merasa tidak sedang dalam masalah (padahal nyatanya tidak profitable) atau logika kalah sama gengsi.

Hal-hal semacam itu yang sering membuat kita terjebak dalam bias dan menutup mata akan begitu banyak pilihan di luar sana. Pertanyaannya, bagaimana cara agar terbebas dari bias? Well, caranya sederhana tapi sulit diimplementasikan, sebagai berikut:

  1. Gunakan parameter yang pas

Supaya enggak bias, kita perlu mengukur apa pun dengan alat ukur yang pas. Mengukur panjang halaman rumah tidak akan tepat jika dilakukan pakai penggaris. Mengukur bisnis tidak akan tepat jika dilakukan menggunakan perasaan. Apa parameter yang pas? Coba renungi dengan jujur dan tenang.

  1. Minta pendapat orang

Bias sering terjadi pada kita yang terlalu dekat dengan pilihan. Akhirnya lensa subjektif yang akan selalu digunakan. Minta pendapat orang lain bisa sangat membantu karena mereka cenderung melihat pilihan tanpa beban perasaan atau lainnya yang berpotensi menimbulkan bias. 

  1. Fokus pada ‘dan’

Tidak semua pilihan harus dipilih salah satunya. Ini bukan soal pilihan ganda yang mutlak benar atau salah. Dalam memilih, kita punya keleluasaan untuk memilih A dan B. Tak harus A atau B. Saya bisa memilih tetap meneruskan bisnis dan bekerja (meski pasti butuh effort lebih). Bukan berarti pilihannya harus meneruska bisnis atau bekerja, kan? Lagian siapa yang mengharuskan sih?

Memang menjalaninya akan jauh lebih mudah ketimbang membacanya atau menulisnya. Tapi bukannya memang akan selalu begitu? Rasanya kalau menjalani selalu semudah berteori, tak akan ada orang yang terjebak bias dalam mengambil keputusan.

Coba ingat kembali, kapan terakhir kali diri ini terjebak di dalam bias?