Prestasi dulu, baru prestise

Judul post kali ini rasanya sudah cukup jelas tanpa perlu dielaborasi lebih jauh lagi. Prestasi yang membentuk prestise, bukan sebaliknya. Meski perlu disadari dan diterima bahwa seringkali di kehidupan nyata yang terjadi adalah sebaliknya.

Orang justru lebih fokus pada prestise. Prestise seakan menjadi prioritas nomor wahid yang tidak bisa ditawar lagi. Prestise harga mati. Banyak dari kita yang berjuang mati-matian demi terlihat punya prestise, meski mungkin minim prestasi. Tampilan visual menjadi kompensasi utama untuk mendukung misi ini. Terlihat keren, bonafide dan mewah menjadi jalan pintas favorit dalam hal ini.

Melabeli diri sendiri untuk memperlihatkan kapabilitas kita. Mengorbankan cash flow demi terlihat sesuai dengan lingkungan sosial. Memaksakan diri melakukan hal-hal di luar kemampuan supaya dianggap mampu.

Entah kenapa kita lupa pada akhirnya prestasi yang akan memberi kita prestise. Apa bedanya prestasi dengan sederet jalan pintas yang sudah dibahas tadi? Prestasi itu faktual dan kekal.

Prestasi bukan sekadar klaim dari diri sendiri. Prestasi datang dari apresiasi orang lain atas kemampuan kita. Kalau emang enggak mampu ya enggak bakal punya prestasi. Makanya prestasi itu faktual, bukan sekadar bualan.

Prestasi akan selalu menempel di diri kita. Mirip dengan nama panggilan, apa yang pernah kita lakukan akan menjadi bagian dari diri kita. Prestasi akan terus mengiringi langkah kita entah sampai kapan nanti. Pernah denger ada orang bilang kaya gini: “Orang itu dulu pas SMA rangking 1 di kelas. Tapi sekarang ya paling rangking 15 di kelas.”
No, sekali pernah rangking 1 di kelas tetap akan jadi rangking 1 di kelas. Meski itu mungkin terjadi 15 tahun yang lalu. Manusia punya cara unik dalam mengabadikan memori-memori terkait prestasi. Mari sepakat bahwa prestasi itu kekal, meski mungkin relevansinya yang sedikit bergeser.

Semoga ini bisa jadi sekadar pengingat setiap kali kita tergoda untuk memburu prestise sebelum prestasi.